Buya Hamka adalah salah seorang ulama besar yang pernah terlahir di bumi Indonesia. Bahkan karena kedalaman ilmunya dan keluhuran budinya, beliau dihormati oleh ulama-ulama lintas mazhab dan organisasi Islam. Beliau tidak memiliki pendidikan formal, yang memang bukan cara yang cocok bagi pribadi Buya Hamka untuk belajar dalam kungkungan sistem dan birokrasi yang dipukul rata. Kapasitas beliau diatas rata-rata sehingga cara paling tepat bagi beliau untuk belajar adalah dengan belajar langsung dari sumbernya, duduk dihadapan ulama, dan banyak membaca buku.
Filsafat Hidup adalah salah satu seri buku yang ditulis oleh Buya Hamka. Buku pertama karya beliau yang saya baca, namun jelas bukan buku terakhir, insyaa Allah. Bahasa yang digunakan oleh Buya adalah bahasa litelatur lama. Meliuk indah meskipun kadang sulit dimengerti. Dapat diketahui dari buku tersebut luasnya wawasan beliau, dan tingginya nilai-nilai yang beliau yakini dan amalkan. Meskipun begitu sebagai pembaca yang kritis kita harus tetap mempertanyakan apa yang tertulis di buku tersebut, dan suatu hal yang wajar ada sedikit ketidaksetujuan didalamnya. Saya sendiri memiliki sedikit perbedaan pandangan dengan beliau, khususnya pandangan beliau mengenai wanita yang tidak akan saya jelaskan disini sebetulnya.
Filsafat pertama : Hidup
Pada saat kita mengamati, merenungi, menilai dan menimbang, apa-apa yang terasa oleh panca indera, maka akan muncul satu kesadaran bahwa terdapat keharmonisan yang disusun dengan sangat cerdas pada alam raya. Kekuatan ini menggetarkan dada dan menghempaskan rasa pada satu entitas yang memiliki kemampuan untuk mengatur semuanya. Dari sini manusia mengenal Tuhan.
Tuhan diatas semuanya menciptakan makhluk yang bernama manusia dengan akal. Satu hal yang membedakan antara manusia dan binatang. Memberikan kedudukan manusia di dunia sebagai pemimpin, yang dapat membawa kebaikan kepada yang dipimpinnya maupun kerusakan besar. Untuk itulah Tuhan memberikan informasi yang dibutuhkan bagi manusia untuk hidup di dunia. Lewat perantara nabi manusia mengenal Tuhan dengan nama Allah azza wa jalla, yang mengajarkan manusia mengenai diri-Nya, tentang ciptaan-Nya, dan tentang tanggung jawab yang harus di emban manusia di dunia.
Filsafat kedua : Akal
Akal adalah yang membedakan antara manusia dan binatang. Bilamana binatang hanya mengikuti nafsunya saja, manusia memiliki akal yang menjadi tali pengekang nafsu agar tidak menjerumuskannya didalam jurang kehinaan.
Orang-orang yang berakal akan terus belajar dari perjalanan hidupnya, mencari hikmah dari setiap tindakan yang dia lakukan. Keberhasilan akan membuatnya semakin rendah hati karena akalnya menunjukan bahwa masih banyak yang sebetulnya lebih mulia daripada dirinya. Kegagalan tidak membuatnya patah arang, bahkan kegagalan baginya adalah sebuah karunia oleh sebab dari sana dia mengetahui dimana letak kekurangannya. Orang yang tidak pernah mencoba, tidak akan pernah gagal, oleh karenaya tidak akan mengetahui dimana letak kelemahannya. Orang berakal akan memancarkan dari dirinya cahaya karisma, yang terlahir dari keluhuran budinya. Keluhuran budi terlahir dari kemampuan manusia mengendalikan hawa nafsunya dengan akalnya. Bila nafsu sudah dapat dikekang oleh akal, maka semua tindak tanduknya layaklah dijadikan pedoman, perkataannya adalah perkataan yang bermanfaat, dan pemikirannya adalah pemikiran yang lurus. Jika sudah begitu alangkah banyaknya manfaat yang terkandung didalam dirinya dan bahagialah umat karena kedatangannya.
Sedangkan tujuan diciptakannya akal yang paling tinggi adalah mengenal sang pencipta, Allah. Akal manusia yang membimbing untuk mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, menjauhi kebodohan, dan mengarahkan hati untuk terus bermunajat kepada-Nya.
Filsafat ketiga : Undang-undang alam
Untuk mengerti mengenai undang-undang alam, tidak harus memperlajari ilmu mengenai alam terlampau banyak. Jikalau memang begitu maka alangkah banyaknya manusia yang rugi karena tidak mendapatkan hikmah dari pengetahuan mengenai undang-undang alam. Untuk dapat mengetahui mengenai undang-undang alam, saratnya hanya satu saja, bersihkan hati nurani dari segala jenis kotoran yang merusak. Perhatikan bagimana pengaruhnya alam raya ini pada diri kita. Maka akan didapat dua perasaan yang muncul bergantian, yaitu senang dan sakit.
Sebetulnya apa itu rasa senang dan sakit yang dirasakan manusia ?. Ternyata setelah ditelaah bukan hanya terkait dengan pemenuhan nafsu dan insting yang juga ada pada binantang. Senang dan sakit yang dirasakan manusia lebih terkait dengan kesehatan jiwa/hati, yang mana terkait juga dengan akal yang tidak dimiliki oleh binatang. Kesehatan hati adalah hakikat dari tujuan hidup manusia. Itulah mengapa banyak orang tidak bahagia meskipun ia sudah memuaskan hawa nafsunya dengan harta yang melimpah, perempuan-perempuan maupun jabatan.
Sebetulnya penderitaan adalah salah satu perkakas untuk mempertahankan hidup semua makhluk bernyawa. Namun rasa sakit juga ada yang memiliki nilai lebih tinggi, yaitu iffah dan syajaah. Iffah artinya kesanggupan menahan diri, sedangkan syajaah kekuatan untuk menjalani penderitaan untuk kemaslahatan yang lebih besar. Keduanya adalah hal yang menimbulkan rasa sakit di hati namun sangat berguna bagi peradaban umat manusia.
Jika iffah manusia kuat timbul qanaah, yaitu mencukupkan pada diri sendiri. Jika iffah lemah maka timbul tamak, yaitu selalu merasa tidak cukup dengan apa yang ada di hadapan. Jika tamak hilang maka timbul perangai amanat, yaitu dapat dipercaya. Bila manusia yang amanat berlaku adil maka timbul belas kasihan. Belas kasihan menimbulkan ampun. Perangai ini yang disebut dengan keutamaan.
Keutamaan yang sifatnya menyerang seperti yang banyak dimiliki oleh kesatria, jenderal, yang mana mereka berani menyebangi bahaya dan tidak segan menghadapi maut, semuanya adalah bagian dari syaja’ah.
Iffah dan syaha’ah adalah perangai mulia terkait diri sendiri, sedangkan untuk diri terhadap alam ada dua perangai lainnya, yaitu adil dan hikmah. Iffah dan syaja’ah terkumpul pada i’tidal (sederhana), sedangkan adil dan hikmah terdapat pada mahabbah, yaitu cinta sesama manusia.
Wajib manusia berusaha mengendalikan diri dengan memiliki perangai-perangai mulia diatas agar diri manusia kembali pada jalannya yang asli, yaitu “undang-undang alam”. Bukannya hanya bereaktif terhadap pengaruh alam pada diri sehingga jiwa terlalu mudah terpengaruh untuk merasa senang dan sakit. Dengan kembali memeriksa, merenung dengan akal, dan merasakan kehadiran kekuatan yang mengaturnya, maka diri akan biasa dalam lingkungan yang utama, tidak was-was, putus asa, berduka ataupun mundur dari ranah perjuangan.
Filsafat ke empat : Adab dan Kesopanan
Adab dibagi menjadi dua jenis, yaitu adab yang sifatnya keluar dan adab yang sifatnya ke dalam. Adab yang sifatnya keluar adalah berkenaan dengan kesopanan dalam pergaulan. Bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya dengan baik sesuai dengan adat istiadat.
Adab yang sifatnya kedalam adalah berkaitan dengan kesopanan batin. Sumber dari segala adab yang terlihat secara kasat mata. Bila batin suci, bersih, niat baik, tidak menginginkan apapun yang buruk untuk manusia kecuali kebaikan, maka hidupnya akan baik dan tercermin dari adab kesopanan.
Adab batin dibagi menjadi dua kembali :
- Adab sesama makhluk
- Adab dengan sang Pencipta
Adab sesama makhluk meliputi menghormati dan menghargai orang lain, berprasangkan baik terhadap teman, sayang terhadap anak kecil dan empati terhadap orang yang kurang. Dari segala jenis manusia yang perlu dipikirkan mengenai adab batin adalah adab terhadap Rasulullah. Umat Islam harus berusaha mencintai Rasulullah lebih dari dia mencintai saudaranya sendiri. Hal ini agar saat saudaranya tersesat tidaklah dia mengikuti saudaranya, melainkan masih berada pada jalan yang lurus mengikuti jalan manusia yang benar-benar dicintainya.
Sedangkan adab dengan sang Pencipta adalah dengan islam, iman, ihsan dan takwa. Takwa itu sendiri mengandung beberapa macam sifat yaitu, harap (raja’), takut (‘khauf’), cemas (‘rahab’), merasa diawasi (‘murqabah’), muhasabah. Seluruh sifat itu tidaklah muncul dengan sendirinya, namun dengan dilatih seperti adab pada manusia dilatih. Bila hidayah Allah telah datang maka sifat itu akan tumbuh pada hati-hati yang suci dan kemudian semakin mudahlah dia merasa demikian. Namun jika hati sering lalai maka sulit bagi hati untuk merasakan sifat-sifat tersebut.
Filsafat ke lima : Sederhana
Sederhana disini bukan terkait dengan pakaian yang buruk, makan yang sedikit, ataupun rumah yang kumuh. Sederhana disini dimaknai dengan menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya, dia tidak terlalu condong terhadap sesuatu.
Orang yang sederhana tidak berlebihan meskipun pada perkara yang digariskan mulia. Oleh karena itu Rasulullah membatasi supaya manusia tidak puasa terus menerus, Rasul juga meringankan ibadah shalat Qiyamul lail dengan tidak menjadikannya wajib, manusia di anjurkan untuk kembali bekerja selepas shalat Jum’at. Hal ini menunjukan bahwa ibadah itu baik asalkan tidak berlebihan. Meski juga dapat dibilang kegiatan yang tidak ritual pun sebetulnya ibadah kalau diniatkan demikian. Maka harus berimbanglah antara ibadah yang sifatnya ritual dan ibadah yang sifatnya muamalah.
Selain itu kesederhanaan meliputi kesederhanaan dalam niat, sederhana dalam berpikir, sederhana dalam menyatakan pendapat, sederhana dalam keperluan hidup, sederhana dalam perasaan suka cita, sederhana dalam harta benda, sederhana dalam mencari jabatan dan sederhana dalam mencari nama. Kesederhanaan dalam segala hal berarti tidak berlebihan dalam hal tersebut.
Kesederhanaan lahir dari pribadi yang mendapatkan didikan yang baik terkait budi pekerti luhur. Pendidikan demikian tidaklah harus ditemukan di sekolah-sekolah formal, seperti yang didapatkan oleh Buya Hamka, melainkan dapat ditemukan dari hikmah yang terpancar dari orang-orang sholeh, orang tua yang baik budinya, maupun orang biasa yang memiliki budi pekerti yang luhur. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan formal memberikan banyak pengetahuan yang akhirnya membuat hati menjadi rendah yang adalah kunci dari sifat sederhana. Jika hati rendah maka manusia akan semakin sadar dengan rendahnya ilmu yang ia miliki, dan semakin malu untuk berlebihan karna memang tiadalah pantas untuk berlaku demikian.
Pendidikan mengajarkan sejati mengajarkan rasa bahwa diri adalah bagian dari masyarakat dan tidak mungkin melepaskan diri dari masyarakat. Pendidikan membuat manusia berkhidmat pada akal dan ilmunya, bukan kepada nafsunya.
Filsafat Ke Enam : Berani
Keberanian dalam bahasa arab di sebut Sya’jaah. Keberanian dibagi menjadi dua jenis :
- Keberanian semangat
- Keberanian hati/budi
Keberanian semangat berkaitan dengan keberanian untuk mengorbankan jiwa raga untuk kebaikan yang lebih besar. Seperti keberanian serdadu di medan perang, keberanian dokter untuk mencari obat dari penyakit yang berbahaya dll.
Kebernainan budi terkait dengan dengan menyatakan pendapat apa yang dia yakini sebagai sebuah kebenaran. Memegang teguh pemikiran akan apa yang dipandang sebagai benar dan menyampaikannya. Meskipun dalam waktu bersamaan manusia harus membuka diri akan kemungkinan salah, dan mendengarkan pendapat yang lainnya secara terbuka (open minded).
Islam adalah ajaran yang mendidik umatnya untuk berani. Sejak 14 abad yang lalu umat didorong untuk berani melawan kedzaliman yang terjadi ditengah-tengah umat. Mempertanyakan tentang tradisi yang menyimpang, akhlak yang buruk, dan kebodohan yang mengakar. Sehingga dalam perkembangannya, Islam telah melalui asam garam kemajuan peradaban yang sangat tinggi dan memberikan inspirasi kepada bangsa eropa untuk membuka diri pada monopoli ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh gereja. Banyak ilmuwan yang terlahir dari budaya berani, dibidang agama, kedokteran, teknik, filsuf dll. Kebebasa berpikir dan mengemukakan pendapat yang terjadi pada masa kekhalifahan Islam, telah mendorong umat ini untuk menghasilkan pemikir-pemikir terbaik pada zamannya. Budaya ini yang harus kembali didorong olem umat Islam saat ini.
Filsafat Ke Enam : Keadilan
Ahli mengenai demokrasi mengatakan terdapat tiga perkara inti berkaitan dengan keadilan, yang pertama adalah persamaan, yang kedua adalah kemerdekaan, dan yang ketiga adalah kepemilikan. Secara singkat akan dijelaskan mengenai tonggak demokrasi lainnya berikut ini.
Kemerdekan menyatakan pikiran
Kebebasan menyatakan pikiran adalah nilai luhur dalam dunia Islam, dan mungkin yang paling pertama dan utama berkembang dari seluruh agama monoteisme lainnya. Pada masa lalu khalifah bahkan memberikan arahan untuk para cendekiawan mengumpulkan berbagai ilmu pengetahuan dari seluruh dunia untuk dipelajari dan diajarkan di universitas-universitas Islam. Bahkan duduk perkara mengenai metode ilmiah dikembangkan oleh ilmuwan Islam, yang kemudian dikembangkan oleh cendekiawan di seluruh dunia yang saat itu menimba ilmu di negara Islam. Hal ini didasarkan dari ajaran Islam yang sangat penting, yaitu Ijtihad “Barangsiapa yang berijtihad, lalu benar hasil ijtihadnya mendapatkanlah dia dua pahala. Dan barangsiapa berijtihad, tetapi tidak tepat hasil Ijtihadnya mendapat dia satu pahala”. Sabda Rasulullah tersebut kemudian yang menjadi pintu kebebasan mengemukakan pendapat sehingga lahirlah cabang-cabang ilmu agama seperti ushul fiqh, ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dll.
Kebebasan beragama
Agama Islam adalah agama yang tidak ada paksaan didalamnya. bahkan ajaran Islam mengajarkan bahwa tidak boleh seorang muslim memaksakan agamanya kepada manusia lainnya. Hal ini dipraktekan oleh Rasulullah sendiri, dimana beliau tidak mampu memaksakan agama Islam kepada pamannya sendiri Abu Thalib sampai ia meninggal.
Kemerdekaan hak milik
Kemerdekaan hak miliki dibagi menjadi dua, hak milik yang sifatnya materil dan hak milik yang sifatnya immateril (kekayaan intelektual). Salah satu inti ajaran Islam adalah untuk melindung harta. Bahkan salah satu bentuk jihad adalah melindung harta dari orang-orang dzolim yang ingin merebut harta dengan cara yang ilegal. Harta adalah titipan dari Allah kepada manusia. Itulah mengapa banyak ayat dan hadits yang mengatur tentang kepemilikan harta. Zakat dan waris adalah salah satu amalan agama Islam yang mengatur tentang pembagian harta dan kepemilikan.
Kemerdekaan memiliki arti, bahwa seseorang mengetahui secara jelas kewajiban yang harus ia tunaikan, dan ia dapat menunaikannya dengan aman dan mendapatkan haknya atas hal tersebut secara adil. Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada manusia untuk berkembang sesuai dengan kemauannya.
Filsafat Ke Tujuah : Persahabatan
Manfaat persahabatan diantara manusia sangat banyak. Diantaranya adalah, sahabat dapat menjadi tempat menyulam cita-cita, dan membersamai kita dalam mencapainya. Sahabat adalah tempat kembali dari penatnya urusan hidup, tempat yang nyaman untuk mengeluarkan seluruh keluh kesah kita, dan mendapatkan ketentraman dengan menceritakan kepadanya.
Persahabatan adalah hubungan antara mansuia dengan manusia, untuk itulah tidak mungkin ada kesempurnaan didalam hubungan tersebut dikarenakan ketidaksempurnaan manusia itu sendiri. Sehingga dibutuhkan perasaan saling mengerti dan memahami antara dua manusia yang saling bersahabat. Selain itu juga sahabat adalah orang yang dapat menunjukan kesalahan-kesalahan, dan memberikan nasihat perbaikan yang dapat diterima dengan baik karena mengertinya dia atas karakter sahabatnya itu sehingga nasihat tadi dapat disampaikan diwaktu yang tepat dan dengan kondisi yang tepat.
Filsafat Ke Depalan : Islam Sebagai Pembentuk Hidup
Islam adalah agama keselamatan. Manusia hidup menginginkan hidup bahagia dan selamat. Maka Allah menurunkan agama Islam yang dapat memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Allah menurunkan ajaran ini melalui nabi-nabi dan rasul-rasulnya yang banyak, yang ditutup oleh nabi Muhammad SAW.
Syariat yang diajarkan nabi dan rasul tersebut adalah
- Mengerjakan sholat
- Menunaikan zakat
- Mengerjakan puasa
- Pergi Haji
- Menyempurnakan dengan Jihad
kesimpulannya adalah, Islam memulangkan seluruh kekuatan hanya pada Allah belaka. Itulah tauhid, yang mengakui Tuhan yang patut disembah hanya satu, dan derajat manusia seluruhnya adalah sama, tidak peduli sebanyak apa harta yang ia miliki ataupun kedudukan yang ia dapatkan. Derajat manusia hanya berbeda dihadapan Allah dari takwanya, dan takwa hanya Allah saja yang tau. Itulah dalam Islam, keadilan sosial adalah kewajiban karena hal tersebut adalah bagian dari syariat. Tidak boleh membeda-bedakan hak manusia dari warna kulitnya, sukunya, keturunannya, pangkat dll. Semuanya sama derajatnya di masyarakat. Inilah kehidupan yang dikehendaki oleh Islam. Hidup inilah yang dicari-cari oleh ahli pikir, dan didunia modern disebut sebagai Hak Asasi Manusia.


0 Komentar